Analisis Novel Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis

17 02 2009

Oleh: Muh. Ardian Kurniawan

Tema

Dalam novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis ini dapat disimpulkan bahwa tema yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah kepemimpinan, yaitu mengenai kebobrokan dalam sifat seorang pemimpin. Dalam novel ini terdapat seorang tokoh antagonis bernama Wak Katok yuang selalu dimitoskan oleh pengikutnya, enam orang pencari damar, ketika mencari damar di hutan sebagai seorang yang dihormati, disegani, dan sakti. Pemitosan ini dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini.

“ Wak Katok dihormati, disegani, dan malahan agak ditakuti, karena termashur ahli pencak silat dan mahir sebagai dukun…. Diceritakan orang, sewaktu dia masih muda di pernah berpencak melawan seekor beruang dan mengalahkannya. Tentang ilmu sihirnya… orang hanya berani berbisik-bisik saja tentang ini. Kata orang dia dapat bertemu dengan hantu dan jin. (halaman 5).

Menurut cerita orang, jika bersilat, Wak Katok dapat membunuh lawannya, tanpa tangan, kaki, atau pisau mengenai lawannya. Cukup dengan gerakan tangan atau kaki saja yang ditujukan ke arah kepala, perut atau ulu hati (halaman 9).

Oleh karena selalu dimitoskan orang, sosok Wak Katok sudah tidak dapat diganggu gugat lagi sebagai pemimpin yang berwibawa. Ia memiliki segala kriteria untuk menjadi pemimpin, yaitu kekuatan, wibawa, dan satu lagi mitos. Mitos bahwa ia memang seorang pemimpin yang mumpuni seperti terlihat dalam kutipan di atas yang banyak menggunakan kata kata orang dan diceritakan. Msyarakat tak pernah dengan benar-benar melihat secara nyata apa yang diceritakan kepadanya mengenai sosok Wak Katok tersebut, tetapi mereka mempercayai cerita itu.

Namun, ketika masalah mulai muncul, yaitu saat seekor harimau tua “memburu” mereka ketika dalam perjalanan pulang dari mengumpulkan damar di hutan, mulai nampak oleh para pendamar, pengikut wak Katok akan kejanggalan-kejanggalan pemitosan terhadap Wak Katok. Seperti pada kutipan di bawah ini.

Sanip berjalan dengan diam…. hatinya gundah gulana…. Apa yang dapat mereka lakukan berempat dengan sebuah senapan tua Wak Katok? Meskipun hatinya agak terobati, karena diberi jimat baru oleh Wak Katok, akan tetapi keraguannya belum hilang. Tidakkah Pak Balam memakai jimat, juga Talib dan Sutan? Dan bukankah mereka juga diserang sampai mati? Tetapi dia mendiamkan bisikan hatinya yang tak percaya, karena ini lebih membesarkan kerusuhan hatinya (halaman 171).

Wak Katok sendiri sudah merasa khawatir kehilangan kepercayaan dari pengikutnya tersebut, terutama sejak kematian Pak Balam yang kemudian disusul Talib, dan juga Sutan. Oleh karena itu ia memutuskan untuk mengikuti saran Pak Haji untuk mencari kembali Sutan setelah diserang harimau, seperti dalam kutipan di bawah ini.

Dia akan lebih takut lagi jika namanya akan rusak di kampung, jika orang kampung akan tahu, bahwa dia takut….Dia harus tetap memelihara keseganan dan hormat orang kampung terhadap dirinya. Dia merasa tak dapat hidup, jika dia tidak lagi dihormati, disegani, dan dipuji-puji di kampung (halaman 165-166).

Demikianlah Wak Katok semakin takut dan pada akhirnya ciri-ciri kerapuhan dan kebobrokan diri seorang pemimpin yang tercermin pada diri Wak Katok mulai muncul. Sifat pengecut Wak Katok yang semula tak pernah diketahui oleh para pencari damar mulai terlihat dan yang mengejutkan bahwa Wak Katoklah yang karena ketakutannya, memperlihatkan kelemahannya sendiri seperti dalam kutipan di bawah ini.

Wak Katok terkejut. Wak katok seperti orang yang terpukau, mengangkat senapan ke bahunya, membidik, lama-lama, sepasang mata itu diam saja, seakan tak bergerak, dan kemudian Wak Katok menarik pelatuk senapan ….berbunyi tik! Senapan tak meletus. Buyung, Pak Haji, dan Sanip melemparkan kayu menyala, menghalau harimau. Beberapa saat setelah harimau pergi mereka terkejut melihat senapan terlempar ke tanah dan Wak Katok ….menggulungkan badannya di dalam pondok, seakan seorang yang ingin menyembunyikan dirinya ke perut bumi (halaman 191).

Puncak dari ketidakpercayaan terhadap sosok Wak Katok adalah ketika Sanip denga terang-terangan mengatakan kebobrokan dan kelemahan diri Wak Katok, pemitosan yang penuh dengan kepalsuan. Hal itu terlihat dalam kutipan di bawah ini.

“Inikah Wak Katok yang gagah perkasa itu, guru paling besar, dukun paling besar, guru silat yang paling pandai, pemimpin yang paling besar. Mengapa Wak Katok kini hendak bersembunyi ke dalam tanah? Engkau guru palsu. Lihat ini…. jimat-jimatmu palsu, mantera-manteramu palsu. Inilah jimat-jimat yang dipakai juga oleh Pak Balam, oleh Talib, oleh Sutan, lihatlah di mana mereka kini, karena mempercayai engkau… mereka telah mati, telah binasa. Engkau memaksa orang mengakui dosa-dosa, tetapi bagaiman dngan dosa-dosamu sendiri (halaman 192).

Akan tetapi pesan utama yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Mochtar Lubis adalah seperti kata Pak Haji saat menjelang kematiannya dalam kutipan di bawah ini.

“Orang yang berkuasa, jika dihinggapi ketakutan, selalu berbuat zalim… ingatlah hidup orang lain adalah hidup kalian juga… sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu sendiri…engkau tak dapat hidup sendiri… cintailah manusia… bunuhlah harimau dalam hatimu.”

Setting atau latar

Dalam novel Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis ini dapat ditemukan adanya setting tempat kejadian bagian-bagian dalam cerita seperti pada kutipan di bawah ini.

Di dalam hutan terdapat pula sumber-sumber nafkah hidup manusia, rotan, damar, dan berbagai bahan kayu (halaman 2).

Jika hujan turun sedang mereka berdua bekerja di hulu hutan, mereka pergi berteduh di dalam pondokyang dibuat dari daun-daun pisang hutan dan keladi (halaman 19).

Dari penggambaran setting tempat pada contoh di atas, nyata sekali terlihat bahwa setting tempat terjadi di hutan dan hulu hutan.

Setting waktu dalam cerita Harimau! Harimau! Karya Mochtar lubis dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini.

Tak seorang jua yang dapat sungguh-sungguh tidur sepanjang malam, dan ketika bunyi kokok ayam hutan yang berderai-derai menandakan dini hari telah dekat, mereka pun segera bangun (halaman 114).

Hari telah menjelang magrib ketika Buyung tiba di tempat mereka bermalam yang pertama dalam perjalanan pulang dari ladang Wak Hitam menuju ke kampung air jernih (halaman 69).

Dari kutipan di atas, dapat diambil latar waktu berupa sepanjang malam, dini hari, dan menjelang magrib. Ada banyak latar waktu yang terdapat dalam Novel tersebut, tetapi sebagai contoh, kiranya contoh dari kutipan di atas dapat mewakili.

Sementara itu terdapat pula setting fisik yang nampak pada kutipan di bawah ini.

Wak Katok berumur lima puluh tahun. Perawakannya kukuh dan keras, rambutnya masih hitam, kumisnya panjang dan lebat, otot-otot tangan dan kakinya bergumpalan. Tampangnya masih serupa orang yang baru berumur empat puluhan saja. Bibirnya penuh dan tebal, matanya bersinar tajam (halaman 3-4).

Dari penggambaran fisik pada kutipan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Wak Katok adalah lelaki tua berusia lima puluh tahun yang memiliki rambut yang masih berwarna hitam dan kumis yang panjang dan lebat, dengan bibir hitam dan tebal. Penggambaran seperti ini dapat memudahkan kita untuk menguatkan visualisasi Wak Katok sebagai dukun, misalnya dengan kumis yang panjang dan lebat dan bibrnya penuh dan tebal.

Setting sosial yang mendukung pencitraan cerita dalam novel Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini.

Talib dan Sanip sekali waktu tak dapat menahan diri. Ketika mereka yang muda-muda bersama-sama di hutan, dan orang-orang tua tak ada dekat-dekat, maka Talib dan Buyung atau Sanip mulai berbicara tentang kecantikan Siti Rubiyah.

“Aduh, coba kalau lakinya bukan Wak Hitam,” kata Talib.

“Aduh, coba kalau dia belum kawin,” tambah Buyung.

“Kemarin aku mimpikan dia,” tambah Sanip (halaman 31).

Dari kutipan di atas, terlihat adanya interaksi di antara Talib, Buyung, dan Sanip yang membicarakan Siti Rubiyah. Ini menandakan bahwa di dalam novel ini terdapat setting sosial.


Pemahaman dan Apresiasi terhadap Novel Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis

Mengenai novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis ini secara keseluruhan merupakan sebuah novel yang termasuk ke dalam jenis novel psikologis. Hal ini terlihat dalam keseluruhan novel yang banyak memuat aspek kejiwan dan konflik batin pada masing-masing tokoh, terutama ketika konflik mulai muncul, yaitu ketika harimau menerkam Pak Balam hingga tewas. Kemudian ketika masing-masing di antara mereka disuruh untuk mengakui setiap dosa-dosa mereka karena keyakinan bahwa harimau yang menerkam Pak Balam adalah harimau yang diturunkan Tuhan untuk menghukum mereka semua yang berdosa.

Sebagian besar kalangan berpendapat bahwa novel ini sebenarnya perlambangan tentang situasi politik Orde Lama yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Hal ini terlihat dari para tokoh yang ada dalam cerita ini mewakili hal tersebut dan dialog-dialog yang ada dalam cerita.

Misalnya, Wak Katok dan Pak Haji adalah tipe tokoh yang mudah sekali dikenali dalam masyarakat Indonesia. Wak Katok adalah pemimpin yang bermantera palsu (pidato-pidato), berjimat palsu, munafik, lalim dan menindas. Sedang Pak Haji adalah tipe pemimpin yang intelektual tetapi takut membela kebenaran. Tipe pemimpin intelektual ini biasanya tak berani bersuara menentang kezaliman, mengasingkan diri dari masalah bangsanya, dan lebih baik memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Sedangkan tokoh Buyung, tokoh muda usia, rupanya dipasang sebagai simbolik kaum muda Indonesia. Buyung adalah tokoh yang masih murni, bersemangaat dan penuh idealisme. Dan rupanya pengarang ada dipihak kaum muda ini. Dengan demikian jelas terlihat bahwa Mochtar Lubis secara sengaja mengambil setting rimba untuk memaparkan dan sekaligus mengecam tingkah laku pemimpin Indonesia (Sumardjo, 1991.)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: