ANALISIS ALUR CERITA SABUK BIDEDARI DAN JAKA TARUB

19 02 2009

oleh: Muh. Ardian Kurniawan

Kajian mengenai sastra (per)bandingan adalah kajian yang membandingkan dua buah karya sastra yang sejenis, baik itu dalam genre puisi maupun prosa. Dengan adanya kegiatan membandingkan ini kemudian menghasilkan sebuah pemahaman baru terhadap karya sastra bandingan tersebut.
Dalam kajian sastra bandingan, dikenal dua mazhab yang masih sampai saat ini menjadi panutan pengkaji sastra bandingan. Keduanya yaitu mazhab Prancis dan mazhab Amerika. Mazhab Prancis menurut Clements dikatakan sebagai mazhab yang hanya membandingkan hanya unsur intrinsik dua buah karya sastra atau lebih yang segenre. Sedangkan mazhab Amerika menurut Remark juga merupakan mazhab yang membandingkan dua buah karya sastra atau lebih yang segenre. Hanya saja bidang yang dibandingkan tidak hanya unsur intrinsik karya sastra tersebut, tetapi dikaitkan juga dengan bidang ilmuyang lain seperti filsafat, sosiologi, politik, agama, budaya, dan sebagainya.
Sehingga dalam makalah ini, penyusun hanya akan membahas sastra bandingan dengan menggunakan mazhab Prancis. Karena bidang kajian kami hanya sebatas alur saja yang masih merupakan ranah unsur intrinsik karya sastra. Adapun karya sastra yang dibandingkan adalah genre prosa dalam bentuk cerpen. Dalam hal ini kami mengambil cerita Sabuk Bidedari karya Lalu Muh. Azhar dan Jaka Tarub karya Nurhayati.
Meskipun keduanya adalah cerita rakyat yang bersifat anonim, tetapi cerita ini tetap masuk dalam ranah kajian sastra. Sebab cerita ini adalah hasil interpretasi penulis terhadap cerita tersebut. Artinya kedua cerita tersebut merupakan reka ulang penulis terhadap cerita lisan yang disampaikan masyarakat penutur cerita secara lisan.
Setelah membaca kedua cerita di atas, kami menemukan adanya persamaan kronologis cerita pada kedua cerita. Baik Sabuk Bidedari maupun Jaka Tarub sama-sama menggunakan alur maju (progresif). Selain itu, kedua cerita ini hampir mirip karena menceritakan dua hal yang sama, yaitu tentang bidadari yang dicuri pakaiannya. Untuk lebih jelasnya, penulis mengutipkan rangkaian kronologis cerita dalam tabel berikut.

No. Sabuk Bidedari Jaka Tarub
1. Sembilan bidadari turun dari kayangan kemudian mandi di danau Segara Anak Tujuh bidadari turun dari kayangan kemudian mandi disebuah telaga
2. Bidadari tidak bisa pulang karena pakaiannya dicuri oleh raksasa Bidadari tidak bisa pulang karena pakaiannya dicuri oleh Jaka Tarub
3. Bidadari meminta bantuan seorang manusia bernama Saksakadi untuk membantu mereka melawan raksasa
4. Raksasa berkelahi melawan Saksakadi
5. Saksakadi berhasil mengalahkan raksasa hingga raksasa itu mati
6. Bidadari mengucapkan terima kasih atas pertolongan Saksakadi
7. Salah seorang bidadari memutuskan untuk menetap di bumi karena jatuh hati pada Saksakadi Salah seorang bidadari menetap dibumi karena pakaiannya tidak ditemukan.
8. Saksakadi menikah dengan salah seorang bidadari Jaka tarub menikah dengan salah seorang bidadari bernama Dewi Nawangwulan
9. Pernikahan tersebut menghasilkan seorang anak. Pernikahan Jaka Tarub dengan Dewi Nawangwulan menghasilkan seorang anak laki-laki.
10. Bidadari kehilangan kesaktiannya karena Saksakadi melanggar janjinya. Dewi Nawangwulan kehilangan kesaktiannya karena Jaka tarub tidak mematuhi perintahnya.
11. Bidadari pergi kembali ke kayangan Bidadari kembali ke kayangan setelah menemukan kembali selendangnya yang ternyata dicuri oleh Jaka Tarub.

Tahapan-tahapan cerita tersebut dapat dikelompokkan kembali dalam rangkaian alur seperti di bawah ini. Seperti yang sudah dijelaskan di bawah bahwa alur yang digunakan dalam kedua cerita adalah alur maju (porgresif). Sehingga urutan kejadiannya juga lurus ke depan.

a. Perkenalan
Pada tahap perkenalan dikisahkan dalam kedua cerita terdapat sekelompok bidadari yang sedang mandi di sebuah telaga. Dalam cerita Sabuk Bidedari, bidadari-bidadari itu berjumlah sembilan orang sedang mandi di Danau Segara Anak. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.

Dikisahkan di puncak Gunung Rinjani turunlah sembilan orang bidadari yang amat cantik dari kayangan. Mereka ingin mandi di danau Segara Anak yang kenamaan. Bidadari itu memiliki tubuh yang semampai dengan pandangan mata yang teduh. Bulu matanya lentik, hidung mancung, dengan rambut hitam panjang tergerai.

Sedangkan dalam cerita Jaka tarub, bidadari-bidadari itu berjumlah tujuh orang dan mandi di sebuah telaga. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.

Pada suatu masa, di sebuah telaga di pulau Jawa, turunlah tujuh bidadari dari kayangan. Ketujuh bidadari itu memiliki gambaran yang indah. Kulit putih, rambut panjang hitam, hidung mancung, bibir ranum bak delima merekah. Tetapi yang tercantik di antara mereka adalah Dewi Nawangwulan, bidadari yang paling bungsu. Biasanya mereka selalu mandi di telaga itu.

Dari pembandingan di atas, dapat dilihat adanya persamaan pengambilan gambaran tahapan perkenalan cerita. Hanya saja, keduanya tetap menonjolkan unsur kedaerahan sesuai dengan asal cerita masing-masing. Sedangkan perbedaan jumlah bidadari dalam kedua cerita, tidak menjadi permasalahan yang mengganggu jalan cerita.

b. Penanjakan
Dalam tahap permasalahan ini muncul suatu hal yang menyebabkan alur cerita menanjak ketegangannya. Dalam cerita, hal itu diperlihatkan dengan dicurinya pakaian bidadari. Hal ini terlihat dalam dua kutipan di bawah ini.

Sabuk Bidedari:
Melihat kemolekan bidadari-bidadari itu muncul niat jahat dari raksasa untuk mencuri pakaian mereka. Raksasa itu berharap bidadari itu mau menuruti keinginannya untuk memperistri mereka. Sementara para bidadari asyik mandi, mereka tidak menyangka bahwa pakaian mereka telah hilang dicuri oleh raksasa.

Jaka Tarub:
Sebab senangnya, ketujuh bidadari itu tidak menyadari bahwa ada sesosok manusia yang mengintip mereka dari semak-semak. Kemudian, Jaka Tarub mengambil pakaian salah satu bidadari.pakaian itu adalah milik Dewi Nawangwulan, bidadari yang paling cantik.

Dari kedua kutipan di atas juga terlihat adanya kesamaan alur cerita bahwa pakaian bidadari-bidadari tersebut dicuri. Bedanya dalam Sabuk Bidedari pencurinya adalah Raksasa, sedangkan dalam Jaka Tarub pencurinya adalah Jaka tarub sendiri.
Jika kita juga mengikutsertakan rangkaian alur seperti yang terdapat pada tabel, maka banyak hal yang ada pada Sabuk Bidedari tidak muncul pada cerita Jaka Tarub. Tetapi, hal itu tidak dalam kronologis alur yang berbeda, sehingga hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan.

c. Klimaks
Klimaks ditandai dengan menikahnya kedua tokoh protagonis dalam cerita. Dalam Sabuk Bidedari, Saksakadi menikah dengan bidadari (bidadari ini tidak disebutkan namanya). Sementara dalam cerita Jaka Tarub, Jaka Tarub menikah dengan Dewi Nawangwulan. Dalam pernikahan tersebut juga mereka dikaruniai seorang anak. Juga mereka hidup kaya. Sebab baik bidadari dalam cerita Sabuk Bidedari maupun Dewi Nawangwulan dalam cerita Jaka Tarub memiliki kesaktian. Sehingga jika menanak nasi tidak mereka hanya menggunakan sebutir beras. Persediaanberas pun tidak pernah habis, malah menjadi semakin melimpah ruah.
Gambaran itu terlihat dalam kutipan cerita Sabuk Bidedari di bawah ini.

Saksakadi dan bidadari pun menikah dan hidup rukun. Ia dikarunia seorang anak. Kekayaan mereka semakin bertambah karena kepandaian bidadari mengatur keperluan mereka. Tanpa sepengetahuan Saksakadi, sang bidadari menggunakan kesaktiannya untuk menanak nasi. Sehingga sepanci nasi hanya membutuhkan sebutir beras saja. Itu membuat persediaan beras mereka menjadi semakin bertambah banyak saja.

Sementara dalam cerita Jaka Tarub hal tersebut nampak dalam kutipan berikut.
Jaka Tarub pun memperistri Dewi Nawangwulan. Kehidupan mereka berkecukupan. Hal ini disebabkan oleh kesaktian Dewi nawangwulan yang mampu menanak nasi hanya dengan satu butir beras. Sehingga persediaan beras mereka tidak pernah berkurang justru bertambah tiap tahunnya. Beberapa tahun kemudaian mereka dikaruniai seorang anak yang tampan rupawan.

Kedua kutipan di atas juga menunjukkan alur cerita yang sama. Bagaimana rangkaian kisah kedua tokoh protagonis tersebut dengan kehidupan mereka yang nyaris tiada beda.

d. Penurunan
Penurunan terjadi justru ketika masalah baru muncul. Dalam cerita, Sabuk Bidedari masalah tersebut muncul ketika bidadari harus mencari anaknya yang belum pulang meski hari sudah petang. Lalu, ia meminta Saksakadi untuk menunggui nasi yang sedang ditanak. Saksakadi berjanji untuk tidak membuka tutup panci sebelum ia kembali sesuai dengan perintah bidadari. Tetapi Saksakadi mengingkari janjinya. Hal ini terlihat pada kutipan di bawah ini.

Karena penasarannya melihat beras yang tidak kunjung habis, dilawannya juga janjinya pada istrinya itu. Saksakadi memutuskan untuk membuka tutup panci meski tahu istrinya belum datang. Saat tutup panci terbuka, betapa kagetnya Saksakadi melihat bahwa di panci itu hanya ada sebutir beras. Saksakadi menjadi heran. “Bagaimana mungkin satu butir beras bisa menjadi sepanci nasi?” pikirnya.
Sekembali istrinya hal itu ditanyakannya pada istrinya. Istrinya menjadi marah.
“Kau telah melanggar janjimu!” teriak Bidadari tersebut.
….
Sebenarnya ia tak menyesali kesaktiannya yang hilang. Tetapi ia kecewa karena suaminya tak mampu menjaga janjinya sendiri.

Rangkaian alur serupa juga didapat dalam kutipan cerita Jaka tarub. Seperti dalam kutipan berikut.
Jaka Tarub tak bisa hilang penasarannya melihat beras yang bertumpuk di gudang belakang rumahnya. Seakan-akan beras itu tak pernah berkurang sedikitpun. Penasaran seperti itu kembali muncul kali ini. Dewi Nawangwulan sedang pergi mencari anak mereka. Jadi kalau pun ia membuka tutup panci ini tak ada seorang pun yang akan mengetahuinya. Tutup panci itu pun dibuka. Agak terperangah Jaka Tarub malihat panci yang hanya berisi sebutir beras. “Kalau hanya menanak nasi seperti ini, mana mungkin bisa bisa,”katanya. Ia berjanji setelah pulang Dewi nawanangwulan, ia akan menanyakan semua ini.
….
Karena kejadian itu, Dewi Nawangwulan kehilangan kesaktiannya. Ia kemudaian menanak nasi seperti manusia biasa. Tidak lama kemudian, nasi yang banyak itu pun semakin berkurang. Dan dewi nawangwulan pun menemukan pakaiannya yang sejak lama hilang itu.

Kedua kutipan ini memiliki sedikit perbedaan. Jika dalam Sabuk Bidedari, Bidadari kecewa terhadap Saksakadi karena mengingkari janjinya. Namun, dalam cerita Jaka Tarub, Dewi Nawangwulan kecewa karena selain mengingkari janjinya ternyata Jaka Tarub juga adalah pencuri pakaiannya.

e. Penyelesaian
Dalam tahap penyelesaian ini dikisahkan dalam kedua cerita bahwa bidadari akhirnya kembali ke kayangan karena kecewa terhadap suami mereka. Sebab suami mereka tidak dapat lagi dipercaya. Dalam Sabuk Bidedari, bidadari tersebut kecewa karena Saksakadi tidak dapat memegang janjinya. Sedangkan dalam Jaka tarub, bidadari kecewa karena suaminyalah yang telah mencuri pakaiannya dahulu. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.

Sabuk Bidedari:
Mengetahui suaminya melanggar janjinya, bidadari itu marah. Ia kecewa suaminya tidak mematuhi nasihatnya. Bidadari itu sedih, tetapi ia juga tidak bisa memaafkan tindakan suaminya. Meski berat ia harus kembali ke kayangan. Di sanalah tempatnya yang sebenarnya. Sementara Saksakadi menyesali kelalaiannya itu. Kini ia harus hidup tanpa istrinya lagi.

Jaka Tarub:
Dalam tumpukan padi itu nawangwulan menemukan kembali pakaiannya yang sudah lam hilang itu. Betapa terkejut dan sakit hatinya karena selama ini yang mencrui pakaiannya adalah suaminya sendiri. Setelah mengenakan pakaiannya, Dewi Nawangwulan lekas terbang menuju kayangan dan tak akan kembali lagi ke bumi. Ia tak menghiraukan permintaan maaf Jaka Tarub.

Dari kutipan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa cerita Sabuk Bidedari memiliki kesamaan juga dalam alur penyelesaiannya dengan ceritaq Jaka Tarub. Diceritakan dalam kedua kutipan bahwa pada akhir cerita, Bidadari tersebut kembali lagi ke kayangan setelah menetap sekian lama di bumi. Dan alasan kembalinya pun hampir sama, karena suami mereka tidak bisa memegang janji mereka.

Daftar Pustaka

Azhar, Muhammad. 1995. Cerita Rakyat Gumi Sasak Lomboq,Naskah. Mataram

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Antologi Esai Sastra Bandingan Dalam Sastra Indonesia Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Nurhayati. 1999. Antologi Sastra Daerah Nusantara, Cerita Rakyat Suara Rakyat, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: