Ekstase Konsumtif

15 04 2009

Oleh: Muh. Ardian Kurniawan

Dalam sajaknya yang berjudul Sajak Anak Muda, Rendra mengatakan bahwa generasi muda manusia Indonesia adalah generasi gagap. Yang karena gagapnya tersebut kemudian lebih banyak untuk bisa melihat dan meniru daripada mencipta. Akhirnya kita menjadi generasi latah. Salahnya, kita masih terlalu dini untuk meniru-niru budaya orang lain.
Oleh karena itu, ketika kebiasaan latah ini sudah menjadi gaya baru manusia Indonesia, ia menjadi begitu superior dan menggeser budaya lokal yang sudah ada. Meskipun sebenarnya mereka yang berlaku latah ini belum memiliki filter untuk menginfiltrasi semua hal yang ditiru itu.
Segala yang datangnya dari Barat adalah baik, dan yang datang dari potensi kearifan lokal masyarakat Indonesia sudah ketinggalan zaman dan jauh terendap di lapisan tanah, menjadi fosil budaya kita. Begitulah kini jargon masyarakat Indonesia. Tetapi, apakah demikian? Hipotesis kita adalah benar untuk situasi ini. Jika kita melihat kondisi masyarakat kita yang kini justru bukannya bersifat produktif, melainkan konsumtif. Dengan konsumtif ini, ada dua sisi yang saling berjalin dan amat kuat mempengaruhi satu dengan lainnya.
Pertama, kita merasa seolah menjadi raja. Ini benar adanya. Masyarakat tidak produktif bukan karena tidak bisa mencipta, tetapi lebih kepada nafsu diri untuk menonjolkan ego mereka. Konsumtif itu bukan sikap yang pasif bagi mereka. Tetapi di situlah letak keaktifan mereka. Mereka aktif membeli segala sesuatu agar tidak tertinggal oleh mode yang sedang up date. Ini berarti mereka mampu. Sehingga konsumtif mereka sebenarnya untuk memperlihatkan kepada yang lainnya bahwa mereka adalah orang yang berpunya. Konsumtif mereka adalah produktif menghadirkan sesuatu bagi diri mereka sendiri.
Tetapi apakah benar selalu demikian? Muncullah pandangan kedua bahwa konsumtif juga merupakan penjajahan. Secara tidak langsung sikap menerima apa yang didatangkan dari luar seolah baik itu membuat produsen apa pun dari pihak luar negeri (taruhlah Barat sebagai contoh) menjadi bersemangat memperdaya mereka kembali. Ketika mereka menerima produk yang satu kemudian menerima pula produk-produk selanjutnya. Maka ada kemungkinan mereka sudah memiliki rasa ketergantungan pada hal tersebut. Dengan demikian, terpasanglah jerat. Dan jika jerat tersebut sudah melekat, maka mereka tidak bisa keluar dari hal tersebut. Lihatlah bagaimana kebudayaan itu sudah benar-benar menghancurkan kehidupan masyarakat. Contohnya, pada anak-anak dan remaja sekarang hanya ada dua hal yang amat mengganggu sekaligus membuat mereka tergantung, yaitu ponsel dan play station. Remaja-remaja kini lebih memilih tidak makan daripada tidak membeli pulsa. Ini di luar kepentingan mereka membeli pulsa untuk hal yang positif. Sementara anak-anak kini begitu asyik duduk di rental-rental play station sampai lupa belajar.
Kosmetik begitu menyiksa wanita-wanita Indonesia. Jika tidak menggunakan alat kosmetik, sudah pasti mereka akan kekurangan kepercayaannya. Seolah wajah mereka tertempel pada alat-alat kosmetik tersebut. Sehingga jika tidak mengunakan alat kosmetik, mereka tidak melihat wajah mereka sendiri. Ini bentuk ketergantungan kita yang mulanya berawal dari sikap konsumtif tadi.
Sekarang hanya ada dua pilihan. Konsumtif atau mengarifi potensi diri untuk memberdayakannya.
Sebenarnya opsi kedua dapat kita ambil sebagai pilihan. Alasan pertama untuk hal ini adalah karena faktor kedekatan. Kedua, ada manfaat yang secara tidak langsung sebenarnya dari potensi-potensi kearifan lokal tersebut yang bisa membentuk karakter masyarakat Indonesia menjadi lebih baik. Permainan rakyat, undak-usuk, aturan dan norma adat yang meskipun terlihat kolot tetapi menyimpan nilai-nilai yang murni dan tulus menampilkan wajah asli bangsa kita. Kesemuanya itu adalah keajegan yang dapat dipahami oleh rakyat. Seharusnya, itulah yang kita berdayakan menjadi elan hidup bangsa ini.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: