Musik, Kampanye dan Sikap Politik Partai

15 04 2009

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} @page Section1 {size:595.35pt 842.0pt; margin:113.4pt 85.05pt 85.05pt 113.4pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Muh. Ardian Kurniawan

Semenjak pesta demokrasi mulai dibuka pada 16 Maret 2009 lalu, begitu banyak atribut partai menempel di sepanjang jalan dan pohon-pohon, bahkan jauh hari sebelumnya atribut tersebut sudah nangkring lebih dulu. Keindahan, kebersihan, dan kerapian tersedak oleh reklame-reklame dadakan yang bergerombol menghiasi setiap batang pohon, tiang, dan umbul-umbul partai politik juga calon legislatif DPR(D)—caleg DPD nyaris tak pernah tertempel. Gejala itu sudah dimaklumi sebagai bagian dari demokrasi Indonesia dalam menyambut kemeriahan pesta demokrasi lima tahunan ini. Tetapi kesemarakan yang lebih cocok dikatakan kesemrawutan itu terhapuskan kala menyambangi panggung demokrasi milik juru kampanye. Berbagai kata-kata bombastis terlontar. Suara-suara persuasif, bahkan sindiran pada partai lain juga muncul dari panggung-pangung tersebut. Yang paling menarik tentulah suara yang paling bening, suara para penyanyi penghibur massa kampanye dari hingar-bingar suara-suara yang tidak pasti benarnya itu. Mau tidak mau, massa harus disegarkan juga dengan musik, sebab kampanye terkadang memakan waktu seharian. Dengan musiklah mereka melepas penat mereka bergaul dengan debu dan terik yang menyengat.

Fenomena munculnya musik dalam setiap kampanye sudah berlangsung sejak lama. Pada pemilu sebelum pemilu 2009 pun Indonesia sudah akrab dengan kampanye bermusik. Hanya saja mungkin tujuannya kini berbeda. Entah menjual popularitas penyanyi dan grup musik yang ada atau sebuah simbol bahwa politik bisa masuk dan merangkul kalangan mana saja. Yang jelas ini ditujukan selain untuk menghibur juga pastilah untuk menarik perhatian dan minat massa. Sebab kini partai-partai tengah bersaing. Sedangkan jumlah partai cukup banyak pula, 44 partai, meskipun tidak sebanyak pemilu tahun 1999, politik. Sehingga ini juga mempengaruhi masyarakat. Banyaknya jumlah partai yang ditawarkan menyebabkan banyaknya pilihan bagi masyarakat untuk memilih partai mana yang sesuai dengan kemauannya. Jika sudah demikian, maka yang muncul, massa akan terbagi ke banyak partai tersebut yang secara otomatis mengakibatkan semakin berkurangnya jumlah massa di setiap partai. Ini tidak dihitung partai yang mampu mencuri simpati masyarakat mendekati pemilu ini.

Dari sinilah partai bersaing untuk merebut perhatian massa. Musik yang kini tengah menjadi demam menggejala di masyarakat, tak lepas dari perhatian partai politik. Partai politik yang tidak mau kampanyenya sepi, menghadirkan penyanyi-penyanyi yang sudah sering keluar di televisi untuk ikut dalam kampanyenya. Mereka menghadirkan musik dari berbagai aliran, sebut saja pop, rock, gabungan pop-rock, rohani, sampai yang paling tenar di masyarakat kita, musik dangdut. Meskipun ramai, tapi antara massa dengan massa penonton musik menjadi tidak jelas juga. Sebab massa tersebut membaur dalam kampanye tersebut.

Tapi sepertinya ada kejanggalan jika munculnya musik saat kampanye tersebut tujuannya hanya ditafsirkan untuk menjual nama partai dan mencari perhatian massa saja. Banyak hal yang tersembunyi dari menampilkan penyanyi terkenal sampai bisa turun ke panggung kampanye selain sekadar menghibur massa partai. Lihat saja fenomena partai politik yang beramai-ramai membawa artis untuk ikut hadir dalam kampanyenya. Perilaku latah tidak mungkin jauh-jauh dari sikap politis partai-partai tersebut.

Maka yang muncul sebenarnya adalah partai-partai tersebut tengah mencoba bersaing memamerkan diri. Keberanian mereka menyewa penyanyi-penyanyi dan grup band terkenal hingga merogoh puluhan bahkan ratusan juta memiliki maksud lain, yaitu untuk mengatakan bahwa mereka adalah partai yang mampu dari segi finansial karena menyewa penyanyi-penyanyi papan atas. Ini akan mengkooptasi pemikiran masyarakat untuk berpikir tidak mungkin kader-kader dari partai politik itu akan mengkorupsi uang negara.

Dalam hal sikap politis, musik juga dapat dijadikan salah satu bentuk silent act partai politik. Sikap politis ini merupakan bentuk pernyataan nonverbal partai terhadap wacana politik yang tengah marak menjadi bahan pembicaraan di masyarakat.

Seiring dengan berkembangnya wacana seputar UU APP, musik yang semula berposisi netral kemudian dijadikan sebagai media bagi partai politik menunjukkan pernyataan sikapnya terhadap UU APP tersebut. Menyikapi isu tersebut, partai politik terbelah menjadi dua bagian, sebagian mendukung secara penuh putusan berlakunya UU APP, sedangkan yang lain juga ada yang menolak UU APP tersebut. Partai-partai yang cenderung berhaluan plural dan moderat, memilih untuk menolak UU APP tersebut dengan menampilkan artis-artis yang menyanyi sembari bergoyang erotis di atas panggung ketika kampanye. Sedangkan partai yang mendukung UU APP tersebut, memilih menggunakan musik dengan artis yang penampilannya tidak mengundang syahwat, bahkan ada yang sampai menggunakan musik rohani dalam kampanyenya.

Munculnya musik dengan goyangan-goyangan penyanyi yang cenderung erotis ini mengakibatkan banyak massa menjadi tertarik ikut kampanye. Padahal, di antara massa yang hadir ikut juga anak-anak yang secara langsung disuapi nuansa seronok mengarah ke porno itu.

Padahal dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat dengan adanya musik dengan campuran bumbu erotis itu bukannya mendukung proses berdemokrasi bangsa, tetapi malah menjatuhkan moral bangsa. Dengan adanya hal tersebut, kita dapat menilai sendiri. Jika sebelum berkuasa saja partai politik sudah menghalalkan erotisme itu, maka akan lebih parah lagi jika ia nanti dapat berkuasa. Masyarakatlah yang akan menentukan.


e-mail: mido_ardian@yahoo.com


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: